Sabtu, 30 Juli 2011

Buritan mengenang terkenang dimasa yang akan datang

Telan pasak tiangpun bergantung, ditinggalkan penghuni rumah, kalolah diam sejenak, tentulah kalam terlepas sudah

sejenak lelah tertidur pulas, layulah lemas kasmaran tak memunculkan harapan, kunjung tiba pasti menjemput,

ajalpun terlepas dari seluruh keakuan, keegoan meninggalkan pesan tak tergantikan

mendatang hari berkunuung, tiba segalanya telah tercatat, tertulis dengan pena yang indah, daun yang jatuh, rinai pun turun, bahkan jenak yang merayap melepaskan keakuanya. tapi semuanya adalah hasil penanganan, tangan tersipuh melupakan, akan artian kasih sayang, terlukis di bahu tercatat dalam kalam, disanlah sejenak melupakan kasih yang tak akan tergantikan.

tak mungkinlah mellupakan kisah kasih kehidupan, jika tak melakukan. tak akan ada akibat yang terjadi bilakah sunyi senyap menyertai, tak ada angin tak ada badai tak mungkinlah memunculkan genangan tentulah sebab memunculkan keakuan. lunglai jiwa, resah rasa, menatap masa yang pasti, kaki ku pijak jendela ku buka, maka berpijaklah disana dengan suatu ketetapan. kering kerontang masa yang panjang, telah usai ku berdoa, tak ada yang berbeda. garisnya telah pecah alam telah berubah, titiknya burai meninggalkan terurai jadilah kaku.

bukankah itu semua kita sendiri yang mengaku berkuasa? alam tak kuasa menghinggapinya, berbaur dengan bintang terang, tentulah semuanya ada di tangan kita...

Telan telanjang jalan yang terang, surau mengisi masanya nanti, kita berkiblat berkumandang dalam galau

dimasanya nanti, diwaktu shubuh terdengar kumandang adzan, disanalah mengikatkan membius keadaan terlihat jelas dengan pandangan. alam menghiasi keindahan memercikan sinar terang,..

betapa pagi yang cerah sungguh menghangatkan seisi alam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar